30
Nov
10

BUDDHISME SEBAGAI PENDIDIKAN

BUDDHISME SEBAGAI PENDIDIKAN
Sejak tahun akhir 1996 hingga kini, dunia mengalami krisis, dan negara-negara Asia mengalami
dampak yang terparah. Beberapa negara dengan pengaruh Konfusianisme yang kuat, dengan
cepat meninggalkan krisis moneter, contohnya Korea Selatan. Sedangkan Cina sedikit sekali
terpengaruh oleh krisis ini. Pemaparan berikut ini menunjukkan pentingnya pendidikan, baik
Konfusianisme dan Buddhisme. Pendidikan Buddhisme sangat penting dalam mempersiapkan
anak-anak menghadapi kehidupan mendatang sesuai dengan ajaran Buddha.
Saat ini manusia mengalami polusi pikiran dan jiwa. Dan kita harus membersihkan dan
menurunkan kadar polusi tersebut dalam diri kita. Salah satunya dengan pendidikan. Peribahasa
Tiongkok kuno menyebutkan “Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membangun sebuah
bangsa, menciptakan pemimpin dan melatih rakyatnya trampil”. Dan sekolah dasar merupakan
pondasi dalam sistem pendidikan.
Pendidikan modern selalu berhubungan dengan iptek dan cara pikir rasional. Jika ditanya
pendidikan mereka akan menyebutkan subjek Matematika, fisika, kimia, bahasa Indonesia, dan
yang sejenis. Jarang yang menyebutkan “Buddhisme sebagai pendidikan”. Dalam keadaan sulit,
dimana untuk melanjutkan ke perguruan tinggi juga memakan biaya yang amat mahal, tidak ada
salahnya umat Buddha menghabiskan waktunya selama setahun mempelajari agama Buddha.
Master Chin Kung dalam bukunya Buddhism as an Education menceritakan dengan
memikat bagaimana Buddhisme dimanfaatkan sebagai pendidikan. Apakah pendidikan itu?
Pendidikan merupakan arti dan nilai-nilai kehidupan manusia, hubungan antarmanusia, juga
hubungan manusia dengan alam semesta.
Buddhisme adalah sistem pendidikan Buddha Shakyamuni, serupa dengan sistem
pendidikan Konfusius yang tersebar luas di Cina. Tujuan pendidikan Buddhis adalah mencapai
kebijaksanaan, yang sering disebut Anuttara-samyak-sambhodi. Sistem pendidikan Buddhis
bertujuan memperkaya kodrat (alam intrinsik) manusia sehingga memperoleh kebijaksanaan.
Sedangkan inti ajaran Buddha adalah: disiplin, meditasi dan kebijaksanaan.
Organisasi pendidikan di Cina
Master Chin Kung menceritakan organisasi pendidikan di Cina sebagai berikut: Pendidikan
buddhis berdasarkan bakti, serupa dengan budaya Cina. Ketika rahib buddhis datang dari India
ke Cina untuk mendiskusikan agama Buddha dengan pemerintah, segera tampak bahwaRefleksi Dhamma
http://members.tripod.com/~mjayadi
Halaman 2
Buddhisme serupa dengan tradisi Konfusianisme. Akibatnya, mereka diminta pemerintah Cina
untuk menetap secara permanen.
Bhikkhu pertama yang datang ke Cina adalah Moton dan Chufarlan. Mereka diterima
oleh “Hong-Lu-Si”, setara dengan Kementerian Luar Negeri atau Kementerian Negara. “Si”
digunakan untuk menteri dalam pemerintahan. Pimpinan Hong-Lu-Si setara dengan menteri luar
negeri. Tetapi, Hong-Lu-Si hanya menerima tamu asing sementara. Untuk memperbolehkan
mereka menetap secara permanen, Kaisar menambahkan kementerian lainnya, “Bai-Ma-Si”, yang
bertugas untuk pendidikan Buddhis. Pada awalnya, “Si” tidak berhubungan dengan vihara atau
kuil, tapi sekarang merujuk pada kuil dalam sejarah Cina kontemporer.
Di Cina, terdapat dua menteri yang bertanggung-jawab atas pendidikan. “Li-Bu”,
ditangani oleh Perdana Menteri, mengatur sistem pendidikan dalam tradisi Konfusianisme.
Organisasi ini bertahan hingga awal tahun 1900-an. Karena Kaisar memberikan dukungan yang
besar kepada “Bai-Ma-Si”, pendidikan Buddhis menyebar dengan cepat ke seluruh daratan Cina.
Akibatnya, sekolah Konfusianis atau pun Manfusianis tidak dijumpai pada setiap desa, melainkan
ditemukan “Si” (vihara, kuil) di mana-mana. “Si” (kuil) merupakan institusi pendidikan dan tidak
menjalankan upacara religius. Hal ini berbeda dengan keadaan vihara atau kuil dewasa ini.
Salah satu misi utama dari keberadaan “Si” adalah pengalihbasaan sutra. Skala pekerjaan
pengalihbasaan ini sangat besar. Pada abad ketujuh, bhikkhu terkenal Xuan-Tsuang memimpin
600 ahli dalam mengalihbahasakan sutra. Dengan demikian, “Si” merupakan organisasi
pemerintah yang besar. Sayangnya, sejak dua ratus tahun yang lampau, fungsinya berubah
menjadi tempat berhubungan dengan tahyul dan roh. Karakteristik pendidikan secara total lenyap
dan hal ini sangat disesalkan sekarang ini.
Master Chin Kung melihat adanya empat tipe Buddhisme sekarang ini. Pertama,
Buddhisme religius, yang dapat dilihat pada sebagian kuil di Taiwan. Kedua, Buddhisme
akademis yang diajarkan di universitas, dimana Buddhisme diperlakukan sebagai filsafat,
pencapaian akademis, khususnya dijumpai di Jepang. Ketiga, total degenerasi Buddhisme ke
dalam klenik (cult). Tipe inilah yang paling merusak pandangan Buddhisme. Keempat, Buddhisme
tradisional, memuat ajaran murni Buddha Shakyamuni, yang jarang ditemui dewasa ini.
Pengalaman Master Chin Kung dengan Buddhisme
Untuk menjelaskan lebih transparan mengapa menganggap Buddhisme sebagai pendidikan,
Master Chin Kung menceritakan pengalamannya dengan Buddhisme:Refleksi Dhamma
http://members.tripod.com/~mjayadi
Halaman 3
“Sewaktu saya menjadi pelajar di Nanjing, saya tidak percaya satu agama pun. Saya pergi ke gereja
untuk mempelajari agama Kristen. Walaupun saya mencoba untuk mengerti, saya tetap tidak
dapat menerimanya. Agama favorit saya pada saat itu adalah Islam, yang menekankan prinsip
moral dan etika, dan saya pikir agak susah ditemukan di antara agama-agama lainnya. Ketika saya
mulai menapakkan diri ke dalam Buddhisme, bhikkhunya tidak meyakinkan. Karena itu, saya
tidak menerima Buddhisme dan agak menentangnya. Saya terlalu muda pada saat itu dan belum
menemukan pembimbing.
Setibanya di Taiwan, saya mendengar reputasi Profesor Dong-Mei Fang, yang dikenal
sebagai filsuf juga sebagai profesor pada Universitas Nasional Taiwan. Karena tertarik, saya
menulis surat menanyakan apakah saya boleh mengambil kelasnya di universitas. Saat itu,
profesor berumur sekitar empat-puluhan. Profesor mengatakan bahwa di universitas, profesor
tidak bersikap sebagai profesor, begitu pula mahasiswanya. Ia mengusulkan agar saya datang ke
rumahnya setiap hari Minggu dan dia akan memberikan pengajaran pribadi selama dua jam.
Saya mulai belajar filsafat Barat, Cina, India dan akhirnya Buddhisme. Ia menunjukkan
bahwa Buddhisme merupakah yang terindah dalam filsafat dunia. Akhirnya saya menyadari
bahwa Buddhisme mengandung suatu ajaran yang hebat. Saya mulai mengunjungi kuil di Taipei,
tapi bhikkhu setempat tidak dapat menerangkan Buddhisme secara memuaskan. Kemudian saya
mengunjungi kuil Shan-Dao-Si di Taipei juga. Kuil ini menyimpan banyak koleksi sutra. Pada saat
itu, penerbitan dan penyebaran buku Buddhis sangat jarang ditemui. Bhikkhu di Shan-Dao-Si
mengijinkan saya untuk meminjam sutra-sutra yang sangat berharga itu.
Segera setelah saya mempelajari Buddhisme dengan serius, saya bertemu dengan Master
Zhang-Jia. Dia adalah praktisi esoteris. Dia lah yang mengajar dan membimbing saya. Serupa
dengan profesor Fang, ia mengajar saya dua jam setiap minggu selama tiga tahun sampai ia
meninggal. Kemudian, saya pergi ke Taizhong mengikuti Mr. Bing Nan Lee dan mulai kuliah dan
praktik agama dengannya.
Buddhisme adalah semacam bentuk khusus pengetahuan; bukanlah merupakan agama.
Untuk memperoleh hasil yang memuaskan, kita harus mengerti kodrat sesungguhnya. Saya
menaruh respek pada Buddhisme dan saya percaya Buddha Shakyamuni merupakan pendidik
terbaik dalam sejarah dunia. Ia, serupa dengan Konfusius, mengajar setiap orang tanpa lelah dan
tanpa diskriminasi.”
Selanjutnya, Master Chin Kung menerangkan hubungan Buddha Shakyamuni dengan
murid-muridnya dalam pendidikan. Dalam bidang agama, tidak dikenal adanya hubungan guru-
murid, yang dikenal adalah ayah-anak atau atasan-bawahan.Refleksi Dhamma
http://members.tripod.com/~mjayadi
Halaman 4
Buddhisme berhasil masuk dan berasimilasi dengan budaya Cina. Buddhisme dan
Konfusianisme mendukung berseminya bakti (filial piety), respek dan penghormatan individu atas
orangtuanya dan gurunya. Bakti merupakan unsur penting dalam menciptakan perdamaian dunia.
Ajaran Konfusianisme memiliki tiga kerangka pikiran utama yang harus dimengerti.
Pertama, hubungan antarmanusia. Sekali dimengerti, kita akan belajar mencintai orang lain.
Kedua, hubungan manusia dengan surga (heaven). Sekali hubungan ini dimengerti, kita belajar
menghormati makhluk-makhluk suci dan roh-roh suci. Ketiga, hubungan antara manusia dengan
lingkungan. Sekali kita mengerti, kita akan mulai menjaga kelestarian lingkungan dan menghargai
setiap benda di sekeliling kita.
Sistem pendidikan dasar Konfusianisme
Pada waktu lampau, siswa-siswa sekolah dasar terlatih baik dan mampu menahan nafsu-nafsu
indrawi. Sekolah menekankan pentingnya konsentrasi dan kebijaksanaan. Anak-anak mulai
mengenal sekolah pada usia 7 tahun. Mereka diharuskan tinggal di sekolah dan diperbolehkan
pulang pada waktu liburan saja. Mereka diajarkan cara berinteraksi dengan benar dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya sopan santun terhadap guru dan teman sekolahnya. Ketika
mereka kembali ke rumah, mereka mempraktikkan respek dan bakti kepada orangtua dan
saudara-saudaranya.
Pada usia 7-12 tahun, para siswa diminta untuk mengingat dan menguncarkan (to recite)
teks-teks kuno secara lancar. Para guru menyeleksi teks-teks kuno yang mengandung nilai-nilai
kebijaksanaan. Para siswa diminta membaca dan menguncarkan teks-teks tersebut 100-200 kali
sehari. Tujuan pendidikan semacam ini adalah untuk mengarahkan pikiran siswa agar diperoleh
pikiran yang murni, konsentrasi dan kebijaksanaan; meskipun mereka tidak mengerti sepenuhnya.
Sistem pendidikan modern yang dimulai sejak Revolusi 1911 membuang tradisi yang
telah berumur 200 tahun ini. Perubahan ini merupakan salah satu penyebab akar permasalahan
negara Cina modern.
Pada usia 13 tahun, mereka dikirim ke sekolah Tai (Tai school) yang menekankan
pendidikan dengan analisis dan diskusi mengenai bahan-bahan yang telah dihafal selama sekolah
dasar. Para guru umumnya ahli pada bidangnya dan dapat berkonsentrasi penuh pada bidangnya
selama karirnya. Mereka mengajar kelas kecil dengan 10-20 siswa dan pelajaran tidak harus
diberikan dalam ruang kelas dan buku teks.Refleksi Dhamma
http://members.tripod.com/~mjayadi
Halaman 5
Pada periode ini, semua buku teks dicetak dengan ukuran standard, yaitu 20-kata per
kolom dan 10-kolom per halaman, tanpa ruang kosong di antaranya. Format ini standard dan
berlaku seluruh daratan Cina. Guru dan para siswa menghafal buku teks itu sedemikian baiknya
hingga mampu menemukan dengan tepat di mana suatu pelajaran terdapat dalam buku teks.
Karena telah dihafal dengan baik, tidak diperlukan buku setelah sekolah dasar.
Para guru sering membawa siswa-siswanya melakukan perjalanan guna memperluas
pengetahuan dan pengalaman. Selama perjalanan, para guru mentransfer pengetahuannya.
Karena tidak terbebani oleh buku teks, perjalanan tersebut jadi sangat menyenangkan.
Kadangkala mereka membawa makanan dan minuman yang enak dan disukainya. Pada akhir
perjalanan, pelajaran pun berakhir, dan guru telah mewariskan pengetahuannya kepada siswa-
siswanya secara alamiah.
Almarhum Mr. Lee, guru Master Chin Kung, pada usia sekitar 90-an, masih mampu
menggunakan material yang didapatnya pada sekolah dasar. Pada waktu ia menulis artikel, ia tidak
memerlukan banyak buku referensi lagi.
Metode pendidikan semacam ini menekankan perolehan kebijaksanaan sejati dengan
pikiran murni. Dengan pikiran murni, kebijaksanaan sejati akan muncul. Hal ini menunjukkan
bahwa anak-anak kecil, yang masih murni dan tidak tercemar pikirannya, merupakan saat yang
tepat bagi orang tuanya untuk memperkenalkan ajaran Buddha. Dengan usaha sedikit, anak-anak
akan memperoleh manfaat yang besar dalam kehidupan selanjutnya.
Buddhisme sebagai pendidikan alternatif di Indonesia
Umat Buddha di Indonesia dapat mulai memanfaatkan ajaran Buddha sebagai salah satu
pendidikan alternatif. Dalam krisis moneter ini, para lulusan SMA yang tidak dapat meneruskan
pendidikannya ke perguruan tinggi, dapat melirik dan memanfaatkan vihara, cetiya, organisasi
Buddhis sebagai pendidikan transisi selama setahun. Dengan mempelajari ajaran Buddha selama
setahun penuh, kiranya akan timbul bibit-bibit unggul yang siap membabarkan dhamma di
persada nusantara.
Serupa dengan umat Islam, yang membangun pesantren sebagai basis pendidikannya.,
umat Buddha nampaknya suda saatnya membangun padepokan-padepokan sebagai institusi
pendidikan agama Buddha; dan lebih baik lagi di areal padepokan tersebut dibangun cetiya atau
vihara dengan bhikkhu yang menetap dan membimbing kehidupan spiritual siswa-siswanya.Refleksi Dhamma
http://members.tripod.com/~mjayadi
Halaman 6
Guru-gurunya dapat diperoleh dari pandita-pandita yang aktif memberikan ceramah, di samping
pengurus padepokan.
Padepokan ini dapat berfungsi pula sebagai asrama bagi siswa-siswi yatim piatu. Aktivitas
dalam padepokan tersebut tidak hanya pendidikan agama Buddha, tapi juga aktivitas lainnya
seperti: kesenian, bahasa Inggris, kepemimpinan, teknik berceramah dan ketrampilan modern
lainnya. Setelah setahun di padepokan ini, para siswa dapat meneruskan kuliah atau kerjanya
dalam masyarakat. Ini merupakan bakti nyata umat Buddha dalam pendidikan nasional.
Rujukan:
Ven. Master Chin Kung, Buddhism as an Education, Buddha Dhamma Meditation Association.
Artikel Dhamma ini disebarluarkan dengan semangat Dhamma. Anda boleh memperbanyak
artikel ini untuk kepentingan Dhamma tanpa mengubah isinya.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dalam memperbaiki situs pribadi di
http://members.tripod.com/~mjayadi atau pun artikel Dhamma ini. Saran dan kritik dapat
disampaikan lewat e-mail ke: mjayadi@yahoo.com atau lewat surat ke alamat: Jl. Ambengan no. 14,
Surabaya 60272.

MEMBANGUN KULTUR dan ETIKA INTERNAL ORGANISASI
YANG ANTI KECURANGAN

Oleh : Amrizal, SE, Ak. MM, CFE.

Pendahuluan

Setiap organisasi bertanggungjawab untuk berusaha mengembangkan
suatu perilaku organisasi yang mencerminkan kejujuran dan etika yang
dikomunikasikan secara tertulis dan dapat dijadikan pegangan oleh seluruh
pegawai. Kultur tersebut harus memiliki akar dan memiliki nilai-nilai luhur yang
menjadi dasar bagi etika pengelolaan suatu organisasi atau suatu entitas.
Dalam intansi pemerintah misalnya BPKP telah menghimpun nilai-nilai luhur
dari seluruh lapisan karyawan BPKP yang harus selalu dijadikan pedoman
dalam segala kegiatan yang dilakukan yaitu:
– Profesionalisme,
– Kerjasama
– Keserasian,keselarasan dan keseimbangan
– Kesejahteraan
Berkaitan dengan itu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dengan SK
Nomor 25/KEP/M.PAN/4/2002 tanggal 25 April 2002 telah menentapkan 17
pasang nilai-nilai dasar budaya kerja bagi aparatur negara yaitu :
Komitmen & Kosisten
Keteguhan & Ketegasan
2 Wewenang & tanggungjawab 11 Disiplin & Keteraturan kerja
3 Keikhlasan & Kejujuran 12 Keberaniab & Kearifan
4 Integritas & Profesionalisme 13 Dedikasi & Loyalitas
5 Kreatifitas & Kepekaan 14 Semangat & Motivasi
6 Kepemimpinan & Keteladanan 15 Ketekunan & Kesabaran
7 Kebersamaan & Dinamika kelompok kerja 16 Keadilan & Keterbukaan
8 Ketepatan & Kecepatan 17 Penguasaan ilmu Pengetahuan &
teknologi
9 Rasionalitas dan Kecerdasan Emosi
Implementasi Nilai-nilai yang terdapat dalam Budaya Kerja tersebut dalam
suatu organisasi sangat erat hubungannya dengan kemauan manajemen untuk
membangun suatu etika perilaku dan kultur organisasi yang anti kecurangan,
sehingga dapat mengurangi atau menghindari terjadinya 3 ( tiga ) kecurangan
pokok seperti (1) kecurangan dalam laporan keuangan (2) kecurangan
penggelapan asset dan (3) kecurangan tindak pidana korupsi.

Faktor-faktor penentu keberhasilan
Keberhasilan pembangunan suatu etika perilaku dan kultur organisasi
yang anti kecurangan yang akan mendukung secara efektif penerapan nilai-
nilai budaya kerja, sangat erat hubungan dengan hal-hal atau faktor-faktor
penentu keberhasilannya yang saling terkait satu dengan yang lainnya sebagai
berikut :

1. Komitmen dari Top Manajemen Dalam Organisasi
Manajemen harus memberikan tauladan dan kemauan yang kuat untuk
membangun suatu kultur yang kuat dalam organisasi yang dipimpinnya.
Peranan moral/kepribadian yang baik dari seorang pimpinan dan
komitmennya yang kuat sangat mendorong tegaknya suatu etika
prilaku dalam suatu organisasi dan dapat dijadikan dasar bertindak
dan suri tauladan bagi seluruh pegawai. Pimpinan tidak bisa
menginginkan suatu etika dan perilaku yang tinggi dari suatu organisasi
sementara pimpinan itu sendiri tidak sungguh-sungguh untuk
mewujudkannya.

Dalam suatu unit organisasi, terutama unit organisasi yang besar, dari
manajemen sangat dibutuhkan dua hal yaitu komitmen moral dan
keterbukaan dalam komunikasi. Kedua hal tersebut dapat mewujudkan
harapan munculnya etika perilaku yang kuat, karena banyak pegawai
yang tidak menyukai perbuatan pimpinan yang kurang bermoral dan
kurang terbuka dalam berkomunikasi. Manajemen harus 3
memperlihatkan kepada karyawan tentang adanya kesesuain antara
kata dengan perbuatan dan tidak memberikan tolerensi terhadap
perbuatan-perbuatan yang melanggar kaedah-kaedah etika organisasi
yaitu dengan diberikan sanksi hukuman yang jelas dan demikian pula
sebaliknya terhadap pegawai yang berprestasi dan bermoral baik
diberikan penghargaan yang proporsional. Adanya pelaksanaan
hukuman dan penghargaan yang konsisten akan memberikan nilai
tambah bagi terciptanya suatu etika perilaku dan struktur organisasi
yang kuat. Pegawai akan merasakan diperlakukan secara adil dan
merasa bersyukur atas posisi yang diraihnya bilamana etika organsasi
dapat ditegakan secara konsisten oleh manajemen.

Pimpinan hendaknya menjadi sponsor utama dalam upaya terciptanya
semangat anti kecurangan yaitu dengan membangun suatu kultur
organisasi yang mengandung sistem nilai yang kuat dan berdasarkan
profesionalisme, integritas, kejujuran dan loyalitas yang tinggi untuk
mewujudkan visi dan misi organisasi
Kultur dan etika perilaku organisasi yang dimiliki harus dapat
mencerminkan nilai utama dari organisasi ( misi organisasi ) dan
tuntunan bagi pegawai dalam membuat keputusan sesuai dengan
kewenangan yang mereka miliki dalam bekerja. Untuk lebih efektifnya
etika dan aturan perilaku dalam suatu organisasi harus dikomunikasikan
kepada seluruh karyawan dan dimengerti dengan baik. Secara
bersama-sama manajemen dan karyawan harus membangun suatu hal
yang positif untuk berkembangnya rasa memiliki akan suatu organisasi
yang sehat yang ditopang oleh kultur yang kuat. Manajemen harus
membuat pernyataan yang jelas mengenai harapannya terhadap semua
pegawai, bagaimana harusnya bertingkah laku dan pemahaman
terhadap visi dan misi organisasi. Pimpinan organisasi harus menunjuk
salah satu manajer senior untuk bertanggungjawab atas perubahan
yang akan dilakukan. Dan manager tersebut akan berbicara atas nama 4
pimpinan mengenai permasalahan yang berkaitan dengan etika dan
aturan perilaku . Manajer ini tidak melakukan kegiatan operasional di
bagian lain organisasi dan bukan sebagai bagian dari pengambil
keputusan. Akhirnya suatu etika dan aturan perilaku bisa merupakan
buku pegangan atau buku petunjuk kebijakan atau dalam bentuk nama
lain nya tergantung jenis organisasinya.

2. Membangun Lingkungan Organisasi Yang Kondusif

Banyak hasil penelitian memberikan indikasi perbuatan salah atau
perbuatan curang seperti tindak pidana korupsi terjadi dalam suatu
organisasi karena kurangnya kepedulian positif karyawan terhadap
perbuatan salah tersebut bahkan dipandang sudah hal yang biasa atau
pura-pura tidak mengetahuinya. Kepedulian positif dari lingkungan
kerja sangat diperlukan dalam membangun suatu etika perilaku dan
kultur oganisasi yang kuat. Rendahnya kepedulian dan rendahnya
moral akan menyuburkan tindakan kecurangan yang pada akhirnya
akan merusak bahkan dapat menghancurkan organisasi.

Faktor-faktor ketidak pedulian tersebut antara lain disebabkan oleh :
a. Top manajemen kurang peduli tentang hukuman dan penghargaan
b. Umpan balik yang negatif yang dirasakan oleh pegawai yang
bermoral atau bermental baik dan penempatan kerja yang tidak adil
atau tidak berbasis kinerja dan tidak sesuai dengan kemampuan
pegawai.
c. Berkembangnya rasa ketidak pedulian akan organisasi
d. Pimpinan lebih bersifat otoriter dan kurang menghargai partisipasi
karyawan
e. Rendahnya loyalitas dan rasa memiliki organisasi
f. Anggaran yang tidak rasional dan adanya pemaksaan pencapaian
terget yang tidak rasional tersebut. 5
g. Kurangnya pelatihan pegawai dan kurangnya kesempatan promosi
h. Tidak jelasnya pertanggungjawaban organisasi
i. Kurangnya komunikasi dan metode kerja organisasi yang tidak jelas

Bagian Personalia suatu organisasi hendaknya membantu dalam
menciptakan instrumen yang mengarahkan kepada adanya kultur
organisasi dan lingkungan kerja yang mendukung . Unit pengelola
Sumber Daya Manusia yang profesional bertanggungjawab terhadap
implementasi program, berinisiatif dan konsisten dengan strategi
manajemen.

Berikut ini hal-hal yang dapat membantu terwujudnya lingkungan kerja
yang positif dalam mengurangi resiko kecurangan yaitu :
a. Memperkenalkan reward system yang berkaitan dengan
pencapaian tujuan dan hasil
b. Memiliki kesempatan yang sama bagi seluruh karyawan
c. Adanya tim orientik , kerjasama dalam mengambil suatu keputusan
d. Program kompensasi administarasi yang profesional
e. Program pelatihan yang profesional dan proritas dalam pembinaan
karir.

Pemberdayaan karyawan dalam mengembangkan lingkungan kerja
yang positif sangat membantu dalam membentuk suatu etika dan aturan
perilaku internal organisasi yang anti kecurangan. Mereka dapat
memberikan pandangan-pandangan dalam pengembangan dan
memperbarui etika dan aturan perilaku ( code of conduct ) yang berlaku
dalam suatu organisasi, Karyawan juga memperlihatkan kontribusinya
yang signifikan dalam berprilaku yang sesuai dengan code of conduct
tersebut.

6
Karyawan juga dapat memberikan masukan kepada pimpinan sebelum
mengambil keputusan penting atau yang berhubungan dengan masalah
hukum dan implementasinya terhadap pelaksanaan sanksi pelanggaran
etika dan aturan perilaku organisasi. Masukan juga bisa melalui saluran
informasi resmi atau kotak saran serta surat pengaduan tanpa nama
terutama telah terjadinya suatu kecurangan yang dilakukan oleh
karyawan. Banyak organisasi menggunakan hotline atau menggunakan
petugas untuk mencegah terjadinya kecurangan, internal auditor dan
bentuk lainnya yang memungkinkan manajemen dapat mengetahui
terjadinya tindakan kecurangan secara dini. Untuk menjamin efektifitas
hasil kerja suatu internal investigasi maka Internal investigasi harus siap
dan memiliki akses yang jelas ke pimpinan.

Membangun/membuat pernyataan nilai dan etika perilaku mesti yang
pantas dan dapat dilaksanakan, disusun dari prinsip-prinsip yang dapat
diterima tidak hanya kata-kata mengenai hukum/peraturan, tetapi juga
diikuti dengan penjiwaan atas maksudnya. Seharusnya aturan perilaku
bukan hanya aturan yang keras, bukan dibuat seperti peraturan yang
kaku yang mana tidak dapat untuk menjawab atau diterapkan pada
semua unit dalam organisasi namun perlu dilakukan observasi
mengenai prinsip-prinsip yang dipakai agar dapat dipahami bukan
sekedar peraturan, namun memiliki jiwa yang mencerminkan sifat-sifat
profesionalitas, kejujuran, integritas, dan loyalitas yang tinggi dalam
membentuk organisasi yang bermoral.

Disamping itu organisasi yang suatu unit kerja yang memiliki otoritas
harus berniat membantu dengan sikap mental/ pendirian yang kokoh
dan konsekuen serta meiliki kemampuan untuk menghilangkan
timbulnya perilaku curang , melalui proses penegakan kedisiplinan dan
adanya kepatuhan dari para manajer dan staf, Proses harus transparan
dan dapat dinilai dengan aturan perlaku yang ada , bebas dari pengaruh 7
pertentangan kepentingan ( conflict of interest).

Kemudian oragnisasi harus mempublikasikan hasil kegiatan dan
menunjukan perubahan-perubahan yang dilakukan dan mau untuk
memperbaiki apa ada kesalahan.

Selain itu manajer harus bertanggungjawab atas budaya etika dan
perilaku pegawainya. Manajer harus bisa merasakan sakit maupun
enaknya tanggungjawab. Mereka harus menjadi contoh untuk berprilaku
dan menjalani hukuman atas perilaku yang menyimpang.. Demikian
juga ketika pegawai diketahui melakukan perbuatan yang tidak sesuai
etika atau terlibat perbuatan curang, investigator harus juga mengetahui
peran yang dilakukan manajer. Bisa saja terjadi manajer yang jelek
akan menyebabkan pegawai melakukan perbuatan yang menyimpang
dari etika dan aturan perilaku.

3. Perekrutan dan Promosi Pegawai

Setiap pegawai memiliki masing-masing seperangkat nilai-nilai
kejujuran, integritas dan kode etik personal. Ketika suatu organisasi
atau entitas berhasil dalam pencegahan kecurangan, dipastikan
organisasi tersebut sudah memiliki kebijakan2 yang efektif yang dapat
meminimalkan kemungkinan adanya merekrut atau mempromosikan
pegawai yang memiliki tingkat kejujuran yang rendah , terutama untuk
posisi yang memerlukan tingkat kepercayaaan.

Prosedur rekrut dan promosi yang dapat meminimalkan atau
mengurangi terjadi perbutan curang dikemudian hari antara meliputi :

a. Melakukan Investigasi latar belakang dari invindu/ pegawai yang
dipertimbangkan untuk dipekerjakan atau dipromosikan untuk posisi
yang memerlukan tingkat kepercayaaan tertentu. 8
b. Melakukan cek atas pendidikan , pengalaman kerja dan referensi
pribadi dari calon pegawai.
c. Melakukan pelatihan secara periodik bagi seluruh pegawai tentang
nilai-nilai organisasi atau entitas dan standar-standar pelaksanaan (
code of conduct ).
d. Sejalan dengan Review Kinerja Rutin, penilaian bagi setiap
indivindu telah memberikan kontribusi untuk menciptakan
lingkungan kerja yang tepat sesuai/ sejalan dengan nilai-niali entitas
dan standar pelaksanaannya.
e. Penilaian yang objektif dan terus menerus atas ketaatan terhadap
nilai- nilai-niali entitas dan standar pelaksanaan, dengan
pengungkapan penyimpangan-penyimpangan sesegera mungkin.

4. Pelatihan Yang Berkesinambungan

Pegawai baru sebaiknya diberi pelatihan tentang nilai-nilai organisasi
atau entitas dan standar-standar pelaksanaan pada saat perekrutan.
Pelatihan ini sebaiknya secara ekplisit dapat mengadopsi harapan-
harapan dari seluruh pegawai menyangkut :

a. Kewajiban-kewajiban mengkomunikasikan masalah-masalah
tertentu yang dijumpai.
b. Membuat Daftar jenis-jenis masalah, termasuk kecurangan yang
terjadi atau yang dicurigai untuk dikomunikasikan secara jelas dan
spesifik ; dan
c. Informasi bagaimana mengkomunikasikan masalah2 tersebut. Dan
juga sebaiknya ada kepastian dari Manajemen Senior mengenai
harapan-harapan pegawai dan tanggung jawab2 komunikasi
tersebut. Pelatihan semacam itu sebaiknya meliputi suatu elemen “
Sadar akan adanya Kecurangan ( “ fraud awareness”), yang positif
tapi tidak ditekankan pada bahwa kecurangan dapat menjadi mahal 9
bagi entitas dan para pegawainya.

Komitmen untuk pendidikan yang berkelanjutan dan kesadaran bagi
pegawai atas permasalahan yang berkaitan dengan etika dan anti
korupsi. Program pendidikan harus disusun untuk kepentingan
organisasi dan relevan dengan keinginan pegawai.
Sebagai tambahan dalam memberikan pelatihan pada saat perekrutan ,
para pegawai sebaiknya memperoleh pelatihan secara periodik
sesudahnya. Beberapa perusahaan dapat mempertimbangkan pelatihan
berkelanjutan untuk posisi tertentu, seperti karayawan bagian
pembelian atau pegawai yang terkait dengan tanggung jawab
keuangan. Pelatihan sebaiknya dibuat spesifik bagi pegawai sesuai
dengan dengan masing-masing tingkatan dalam organisasi, lokasi
geografi, dan tanggung jawab-tanggungjawab penugasan. Sebagai
contoh , pelatihan untuk manajer senior secara normal akan berbeda
dari pegawai biasa, dan pelatihan untuk pegawai bagian pembelian
akan berbeda dengan pegawai bagian penjualan , pegawai bagian
internal audit dan lain sebagainya.

5. Menciptakan Saluran Komunikasi Yang Efektif

Manajemen membutuhkan informasi mengenai pelaksanaan dan
pertanggungjawaban pekerjaan apakah sudah susuai dengan kode etik
atau tidak dari masing-masing pegawai. Masing-masing pegawai harus
dapat menginformasikan tentang pelaksanaan kode etik tersebut mulai
dari pemegang posisi tertinggi sampai yang terendah. Permintaan
komfirmasi tersebut minimal dilakukan setahun sekali, hal ini bukan
hanya formalitas saja tetapi laporan tersebut betul-betul dapat
digunakan sebagai pencegahan dan pendekteksian bila terjadinya
perbuatan curang dalam organisasi. Laporan yang jujur dari karyawan
sangat dibutuhkan dan bukan atas dasar sakit hati atau irihati pada
seseorang. 10

Demikian juga laporan internal auditor harus ditindaklanjuti oleh
manajemen sesuai dengan aturan kode etik yang sudah disepakati.
Pegawai harus diberi kesempatan untuk melaporkan perbuatan tidak
baik yang dilakukan pegawai, manajer atau kliennya. Sistem ini harus
harus menjamin dan menjaga kerahasiaan pegawai agar tidak diketahui
namanya dan kelangsungan pekerjannya. Sistem juga hendaknya
dapat meningkatkan rasa percaya diri pegawai terhadap sistem yang
ada dan mereka merasa terlindung dari penuntutan. Sistem yang terbaik
mungkin bisa menggunakan saluran khusus untuk pengaduan dengan
menggunakan answering mechine Tak kalah pula pentingnya adanya
sistem pelaporan yang dapat digunakan oleh pegawai untuk
mendapatkan nasehat masalah dilema etika yang dialaminya setiap
saat.

6. Penegakan kedisiplinan

Kedisiplinan merupakan suatu kunci penting keberasilan dalam
menerapkan dan memelihara kode etik dalam suatu organisasi.
Tindakan disiplin akan dapat mengurangi perbuatan curang yang
dilakukan pegawai.
Hal-hal berikut ini dapat mengurangi tindakan kecurangan :
a. Investigasi terhadap suatu insiden dilakukan selalu dalam
kerangka menegakan kode etik atau terhadap yang melanggar
kode etik secara kosekuen.
b. Perlakuan atas suatu kasus harus proporsional dan konsisten.
c. Pengendalian yang relevan atas penugasan dan
pengembangannya.
d. Komunikasi dan pelatihan harus sesuai dengan nilai-nilai
organisasi, kebutuhan dan sesuai kode etik dan harapan.
Pandangan terhadap konsekuwensi kecurangan harus secara nyata
disebarluaskan kepada seluruh pegawai. Pegawai harus disiplin dengan
waktu dan sumber daya. Setiap perbuatan melanggar disiplin organisasi
akan dikenakan sanksi. Pegawai yang disiplin akan dapat meningkatkan
kultur organisasi.

Daftar Kepustakaan
1. Statement on Auditing Standards No.99 “ Considerations of Fraud in
a Financial Statement Audit .
2. Manual Investigation, Association of Certified Fraud Examiners
2000
Jakarta, 27 Mei 2004
Penulis :
Pengendali Teknis pada Direktorat Investigasi BUMN dan BUMD
Deputi Bidang Investigasi

Kasus
1. Manajemen mengisyaratkan dalam rapat bahwa perusahaan tidak
boleh gagal dalam mencapai target keuangan dan kinerja. Untuk
mencapai target keuangan atau kinerja perusahaan tersebut,
manajemen mentolerir perilaku curang. Kegagalan dalam
pencapaian target akan membawa risiko buruk bagi pegawai Setting
seperti ini akan memberikan pilihan yang sulit bagi pegawai apabila
masih terdapat pegawai yang memiliki nilai-nilai kejujuran dan
integritas terhadap kebenaran. Pegawai akan berusaha untuk
mencapai target walaupuan akan dilakukan dengan cara-cara
curang dalam pelaporan keuangannya seperti melakukan window
dressing

Pertanyaan :
a. Diskusikan kasus di atas apakah terjadi pelanggaran etika
b. Diskusikan bagaimana cara untuk mengatasinya

2. A dan B bersahabat karib sejak SMA. Persahabatan mereka terjalin
sampai saat kuliah, tinggal ditempat kos yang sama. Rasa setia
kawan, saling bantu antara keduanya berjalan dengan baik sampai
mereka tamat kuliah. Namun selesai kuliah mereka terpaksa
berpisah dalam waktu yang cukup lama dan komunikasi antara
keduanya juga sempat terputus . Dua puluh tahun kemudian A dan
B tanpa disenggaja bertemu di kota Makmur Bahagia . A bercerita
bahwa ia sekarang menduduki jabatan penting dalam
pembangunan prasarana kota Makmur Bahagia sejak 4 tahun yang
lalu. Sedangkan B menjadi pengusaha yang sukses di kota Elok ( 13
berbeda provinsi dengan kota Makmur Bahagia) . Enam bulan
kemudian perusahaan milik B mengikuti tender pengadaan sarana
dan prasarana di kota Makmur Bahagia dengan nilai proyek Rp 25
milliar. Kebetulan pada saat proses tender berlangsung A
berencana menikahkan anak perempuannya yang pertama. dan
berencana mengundang walikota, ketua DPRD, anggota DPRD dan
pejabat-pejabat negara serta beberapa pengusaha di kota Makmur
Bahagia Berita ini sampai pada B. Mengetahui berita bahagia ini B
menelepon temannya A serta menawarkan jasa baiknya untuk
menyelenggarakan pesta pernikahan anak sahabat karibnya itu di
hotel bintang lima plus biaya bulan madu keliling Eropah dengan
total biaya kurang lebih Rp 150.000.000..

Pertanyaan :
a. Diskusikan kasus di atas, bagaiama hubungan perilaku A
dengan kode etik organisasi yang sehat dan perilaku
curang.
b. Bagaimana pula penilaian saudara dengan rencana B
memberikan hadiah pada A senilai Rp 150.000.000 tersebut
c. Jika A menerima tawaran tersebut, akankah berpengaruh
terhadap proses tender yang berlangsung dimana dalam
pengambilan keputusan tender A mempunyai pranan yang
sangat penting
Tim penyusun Buku Modus Operandi TPK

1 Penanggungjawab Muhammad Yusuf IV
2 Wk. Penanggungjawab Amrizal IV
3 Sekretaris Agustina Arumsari III
4 Ketua Tim Tuppal Pakpahan III
5 Anggota Juliver Sinaga III
6 Anggota Jus Marfinnoor III
7 Anggota Muhammad Risbyantoro III
8 Anggota Irham III

BUDDHISME SEBAGAI PENDIDIKAN
Sejak tahun akhir 1996 hingga kini, dunia mengalami krisis, dan negara-negara Asia mengalami
dampak yang terparah. Beberapa negara dengan pengaruh Konfusianisme yang kuat, dengan
cepat meninggalkan krisis moneter, contohnya Korea Selatan. Sedangkan Cina sedikit sekali
terpengaruh oleh krisis ini. Pemaparan berikut ini menunjukkan pentingnya pendidikan, baik
Konfusianisme dan Buddhisme. Pendidikan Buddhisme sangat penting dalam mempersiapkan
anak-anak menghadapi kehidupan mendatang sesuai dengan ajaran Buddha.
Saat ini manusia mengalami polusi pikiran dan jiwa. Dan kita harus membersihkan dan
menurunkan kadar polusi tersebut dalam diri kita. Salah satunya dengan pendidikan. Peribahasa
Tiongkok kuno menyebutkan “Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membangun sebuah
bangsa, menciptakan pemimpin dan melatih rakyatnya trampil”. Dan sekolah dasar merupakan
pondasi dalam sistem pendidikan.
Pendidikan modern selalu berhubungan dengan iptek dan cara pikir rasional. Jika ditanya
pendidikan mereka akan menyebutkan subjek Matematika, fisika, kimia, bahasa Indonesia, dan
yang sejenis. Jarang yang menyebutkan “Buddhisme sebagai pendidikan”. Dalam keadaan sulit,
dimana untuk melanjutkan ke perguruan tinggi juga memakan biaya yang amat mahal, tidak ada
salahnya umat Buddha menghabiskan waktunya selama setahun mempelajari agama Buddha.
Master Chin Kung dalam bukunya Buddhism as an Education menceritakan dengan
memikat bagaimana Buddhisme dimanfaatkan sebagai pendidikan. Apakah pendidikan itu?
Pendidikan merupakan arti dan nilai-nilai kehidupan manusia, hubungan antarmanusia, juga
hubungan manusia dengan alam semesta.
Buddhisme adalah sistem pendidikan Buddha Shakyamuni, serupa dengan sistem
pendidikan Konfusius yang tersebar luas di Cina. Tujuan pendidikan Buddhis adalah mencapai
kebijaksanaan, yang sering disebut Anuttara-samyak-sambhodi. Sistem pendidikan Buddhis
bertujuan memperkaya kodrat (alam intrinsik) manusia sehingga memperoleh kebijaksanaan.
Sedangkan inti ajaran Buddha adalah: disiplin, meditasi dan kebijaksanaan.
Organisasi pendidikan di Cina
Master Chin Kung menceritakan organisasi pendidikan di Cina sebagai berikut: Pendidikan
buddhis berdasarkan bakti, serupa dengan budaya Cina. Ketika rahib buddhis datang dari India
ke Cina untuk mendiskusikan agama Buddha dengan pemerintah, segera tampak bahwa
Buddhisme serupa dengan tradisi Konfusianisme. Akibatnya, mereka diminta pemerintah Cina
untuk menetap secara permanen.
Bhikkhu pertama yang datang ke Cina adalah Moton dan Chufarlan. Mereka diterima
oleh “Hong-Lu-Si”, setara dengan Kementerian Luar Negeri atau Kementerian Negara. “Si”
digunakan untuk menteri dalam pemerintahan. Pimpinan Hong-Lu-Si setara dengan menteri luar
negeri. Tetapi, Hong-Lu-Si hanya menerima tamu asing sementara. Untuk memperbolehkan
mereka menetap secara permanen, Kaisar menambahkan kementerian lainnya, “Bai-Ma-Si”, yang
bertugas untuk pendidikan Buddhis. Pada awalnya, “Si” tidak berhubungan dengan vihara atau
kuil, tapi sekarang merujuk pada kuil dalam sejarah Cina kontemporer.
Di Cina, terdapat dua menteri yang bertanggung-jawab atas pendidikan. “Li-Bu”,
ditangani oleh Perdana Menteri, mengatur sistem pendidikan dalam tradisi Konfusianisme.
Organisasi ini bertahan hingga awal tahun 1900-an. Karena Kaisar memberikan dukungan yang
besar kepada “Bai-Ma-Si”, pendidikan Buddhis menyebar dengan cepat ke seluruh daratan Cina.
Akibatnya, sekolah Konfusianis atau pun Manfusianis tidak dijumpai pada setiap desa, melainkan
ditemukan “Si” (vihara, kuil) di mana-mana. “Si” (kuil) merupakan institusi pendidikan dan tidak
menjalankan upacara religius. Hal ini berbeda dengan keadaan vihara atau kuil dewasa ini.
Salah satu misi utama dari keberadaan “Si” adalah pengalihbasaan sutra. Skala pekerjaan
pengalihbasaan ini sangat besar. Pada abad ketujuh, bhikkhu terkenal Xuan-Tsuang memimpin
600 ahli dalam mengalihbahasakan sutra. Dengan demikian, “Si” merupakan organisasi
pemerintah yang besar. Sayangnya, sejak dua ratus tahun yang lampau, fungsinya berubah
menjadi tempat berhubungan dengan tahyul dan roh. Karakteristik pendidikan secara total lenyap
dan hal ini sangat disesalkan sekarang ini.
Master Chin Kung melihat adanya empat tipe Buddhisme sekarang ini. Pertama,
Buddhisme religius, yang dapat dilihat pada sebagian kuil di Taiwan. Kedua, Buddhisme
akademis yang diajarkan di universitas, dimana Buddhisme diperlakukan sebagai filsafat,
pencapaian akademis, khususnya dijumpai di Jepang. Ketiga, total degenerasi Buddhisme ke
dalam klenik (cult). Tipe inilah yang paling merusak pandangan Buddhisme. Keempat, Buddhisme
tradisional, memuat ajaran murni Buddha Shakyamuni, yang jarang ditemui dewasa ini.
Pengalaman Master Chin Kung dengan Buddhisme
Untuk menjelaskan lebih transparan mengapa menganggap Buddhisme sebagai pendidikan,
Master Chin Kung menceritakan pengalamannya dengan Buddhisme:
“Sewaktu saya menjadi pelajar di Nanjing, saya tidak percaya satu agama pun. Saya pergi ke gere
untuk mempelajari agama Kristen. Walaupun saya mencoba untuk mengerti, saya tetap tidak
dapat menerimanya. Agama favorit saya pada saat itu adalah Islam, yang menekankan prinsip
moral dan etika, dan saya pikir agak susah ditemukan di antara agama-agama lainnya. Ketika say
mulai menapakkan diri ke dalam Buddhisme, bhikkhunya tidak meyakinkan. Karena itu, saya
tidak menerima Buddhisme dan agak menentangnya. Saya terlalu muda pada saat itu dan belum
menemukan pembimbing.
Setibanya di Taiwan, saya mendengar reputasi Profesor Dong-Mei Fang, yang dikenal
sebagai filsuf juga sebagai profesor pada Universitas Nasional Taiwan. Karena tertarik, saya
menulis surat menanyakan apakah saya boleh mengambil kelasnya di universitas. Saat itu,
profesor berumur sekitar empat-puluhan. Profesor mengatakan bahwa di universitas, profesor
tidak bersikap sebagai profesor, begitu pula mahasiswanya. Ia mengusulkan agar saya datang ke
rumahnya setiap hari Minggu dan dia akan memberikan pengajaran pribadi selama dua jam.
Saya mulai belajar filsafat Barat, Cina, India dan akhirnya Buddhisme. Ia menunjukkan
bahwa Buddhisme merupakah yang terindah dalam filsafat dunia. Akhirnya saya menyadari
bahwa Buddhisme mengandung suatu ajaran yang hebat. Saya mulai mengunjungi kuil di Taipei,
tapi bhikkhu setempat tidak dapat menerangkan Buddhisme secara memuaskan. Kemudian saya
mengunjungi kuil Shan-Dao-Si di Taipei juga. Kuil ini menyimpan banyak koleksi sutra. Pada sa
itu, penerbitan dan penyebaran buku Buddhis sangat jarang ditemui. Bhikkhu di Shan-Dao-Si
mengijinkan saya untuk meminjam sutra-sutra yang sangat berharga itu.
Segera setelah saya mempelajari Buddhisme dengan serius, saya bertemu dengan Master
Zhang-Jia. Dia adalah praktisi esoteris. Dia lah yang mengajar dan membimbing saya. Serupa
dengan profesor Fang, ia mengajar saya dua jam setiap minggu selama tiga tahun sampai ia
meninggal. Kemudian, saya pergi ke Taizhong mengikuti Mr. Bing Nan Lee dan mulai kuliah da
praktik agama dengannya.
Buddhisme adalah semacam bentuk khusus pengetahuan; bukanlah merupakan agama.
Untuk memperoleh hasil yang memuaskan, kita harus mengerti kodrat sesungguhnya. Saya
menaruh respek pada Buddhisme dan saya percaya Buddha Shakyamuni merupakan pendidik
terbaik dalam sejarah dunia. Ia, serupa dengan Konfusius, mengajar setiap orang tanpa lelah dan
tanpa diskriminasi.”
Selanjutnya, Master Chin Kung menerangkan hubungan Buddha Shakyamuni dengan
murid-muridnya dalam pendidikan. Dalam bidang agama, tidak dikenal adanya hubungan guru-
murid, yang dikenal adalah ayah-anak atau atasan-bawahan.
Buddhisme berhasil masuk dan berasimilasi dengan budaya Cina. Buddhisme dan
Konfusianisme mendukung berseminya bakti (filial piety), respek dan penghormatan individu atas
orangtuanya dan gurunya. Bakti merupakan unsur penting dalam menciptakan perdamaian dunia.
Ajaran Konfusianisme memiliki tiga kerangka pikiran utama yang harus dimengerti.
Pertama, hubungan antarmanusia. Sekali dimengerti, kita akan belajar mencintai orang lain.
Kedua, hubungan manusia dengan surga (heaven). Sekali hubungan ini dimengerti, kita belajar
menghormati makhluk-makhluk suci dan roh-roh suci. Ketiga, hubungan antara manusia dengan
lingkungan. Sekali kita mengerti, kita akan mulai menjaga kelestarian lingkungan dan menghargai
setiap benda di sekeliling kita.
Sistem pendidikan dasar Konfusianisme
Pada waktu lampau, siswa-siswa sekolah dasar terlatih baik dan mampu menahan nafsu-nafsu
indrawi. Sekolah menekankan pentingnya konsentrasi dan kebijaksanaan. Anak-anak mulai
mengenal sekolah pada usia 7 tahun. Mereka diharuskan tinggal di sekolah dan diperbolehkan
pulang pada waktu liburan saja. Mereka diajarkan cara berinteraksi dengan benar dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya sopan santun terhadap guru dan teman sekolahnya. Ketika
mereka kembali ke rumah, mereka mempraktikkan respek dan bakti kepada orangtua dan
saudara-saudaranya.
Pada usia 7-12 tahun, para siswa diminta untuk mengingat dan menguncarkan (to recite)
teks-teks kuno secara lancar. Para guru menyeleksi teks-teks kuno yang mengandung nilai-nilai
kebijaksanaan. Para siswa diminta membaca dan menguncarkan teks-teks tersebut 100-200 kali
sehari. Tujuan pendidikan semacam ini adalah untuk mengarahkan pikiran siswa agar diperoleh
pikiran yang murni, konsentrasi dan kebijaksanaan; meskipun mereka tidak mengerti sepenuhnya.
Sistem pendidikan modern yang dimulai sejak Revolusi 1911 membuang tradisi yang
telah berumur 200 tahun ini. Perubahan ini merupakan salah satu penyebab akar permasalahan
negara Cina modern.
Pada usia 13 tahun, mereka dikirim ke sekolah Tai (Tai school) yang menekankan
pendidikan dengan analisis dan diskusi mengenai bahan-bahan yang telah dihafal selama sekolah
dasar. Para guru umumnya ahli pada bidangnya dan dapat berkonsentrasi penuh pada bidangnya
selama karirnya. Mereka mengajar kelas kecil dengan 10-20 siswa dan pelajaran tidak harus
diberikan dalam ruang kelas dan buku teks.
Pada periode ini, semua buku teks dicetak dengan ukuran standard, yaitu 20-kata per
kolom dan 10-kolom per halaman, tanpa ruang kosong di antaranya. Format ini standard dan
berlaku seluruh daratan Cina. Guru dan para siswa menghafal buku teks itu sedemikian baiknya
hingga mampu menemukan dengan tepat di mana suatu pelajaran terdapat dalam buku teks.
Karena telah dihafal dengan baik, tidak diperlukan buku setelah sekolah dasar.
Para guru sering membawa siswa-siswanya melakukan perjalanan guna memperluas
pengetahuan dan pengalaman. Selama perjalanan, para guru mentransfer pengetahuannya.
Karena tidak terbebani oleh buku teks, perjalanan tersebut jadi sangat menyenangkan.
Kadangkala mereka membawa makanan dan minuman yang enak dan disukainya. Pada akhir
perjalanan, pelajaran pun berakhir, dan guru telah mewariskan pengetahuannya kepada siswa-
siswanya secara alamiah.
Almarhum Mr. Lee, guru Master Chin Kung, pada usia sekitar 90-an, masih mampu
menggunakan material yang didapatnya pada sekolah dasar. Pada waktu ia menulis artikel, ia tidak
memerlukan banyak buku referensi lagi.
Metode pendidikan semacam ini menekankan perolehan kebijaksanaan sejati dengan
pikiran murni. Dengan pikiran murni, kebijaksanaan sejati akan muncul. Hal ini menunjukkan
bahwa anak-anak kecil, yang masih murni dan tidak tercemar pikirannya, merupakan saat yang
tepat bagi orang tuanya untuk memperkenalkan ajaran Buddha. Dengan usaha sedikit, anak-anak
akan memperoleh manfaat yang besar dalam kehidupan selanjutnya.
Buddhisme sebagai pendidikan alternatif di Indonesia
Umat Buddha di Indonesia dapat mulai memanfaatkan ajaran Buddha sebagai salah satu
pendidikan alternatif. Dalam krisis moneter ini, para lulusan SMA yang tidak dapat meneruskan
pendidikannya ke perguruan tinggi, dapat melirik dan memanfaatkan vihara, cetiya, organisasi
Buddhis sebagai pendidikan transisi selama setahun. Dengan mempelajari ajaran Buddha selama
setahun penuh, kiranya akan timbul bibit-bibit unggul yang siap membabarkan dhamma di
persada nusantara.
Serupa dengan umat Islam, yang membangun pesantren sebagai basis pendidikannya.,
umat Buddha nampaknya suda saatnya membangun padepokan-padepokan sebagai institusi
pendidikan agama Buddha; dan lebih baik lagi di areal padepokan tersebut dibangun cetiya atau
vihara dengan bhikkhu yang menetap dan membimbing kehidupan spiritual siswa-siswanya.
Guru-gurunya dapat diperoleh dari pandita-pandita yang aktif memberikan ceramah, di samping
pengurus padepokan.
Padepokan ini dapat berfungsi pula sebagai asrama bagi siswa-siswi yatim piatu. Aktivitas
dalam padepokan tersebut tidak hanya pendidikan agama Buddha, tapi juga aktivitas lainnya
seperti: kesenian, bahasa Inggris, kepemimpinan, teknik berceramah dan ketrampilan modern
lainnya. Setelah setahun di padepokan ini, para siswa dapat meneruskan kuliah atau kerjanya
dalam masyarakat. Ini merupakan bakti nyata umat Buddha dalam pendidikan nasional.
Rujukan:
Ven. Master Chin Kung, Buddhism as an Education, Buddha Dhamma Meditation Association.


0 Responses to “BUDDHISME SEBAGAI PENDIDIKAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: